Memutus Mata Rantai Kejahatan Terhadap Anak dan Perempuan di Mesuji, Ketua Kornas TRC-PPA Tunjuk Heri Purwanto., S.E. Sebagai Ketua Korda Kab Mesuji

0
204

Indomitramedia.com

Jakarta |

Ketua Umum TRCPPA atau KORNAS TRCPA Bunda naumi telah menunjuk Heri Purwanto SE.sebagai Koordinator TRCPPA  Kabupaten Mesuji,Lampung

Bunda naumi berharap dengan di pimpin nya Heri Purwanto SE,  dapat mencapai target Wilayah aman atau Ramah anak begitu juga aman untuk para perempuan bunda naumi menyatakan, angka kejahatan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa selama 2019 menurun dari tahun sebelumnya. Sayangnya tindak kriminal yang dilakukan anak di bawah umur justru meningkat.

“Nah, kalau anak itu di bawah 12 tahun, berdasarkan UU 11 Tahun 2012 tidak perlu dipidana. Maka ini akan menjadi kesulitan bagi orang tua. Masyarakat sulit menerima itu karena pelakunya anak di bawah 12 tahun berdasarkan UU itu tidak perlu dipidana,” ujarnya.

Namun, jenis yang dilakukan anak bukan hanya kejahatan seksual, melainkan kejahatan pencurian, pembunuhan, dan narkoba. “Tetapi, hal tersebut tetaplah tindak pidana,” ungkapnya.

Prediksi itu pun membuat KORNAS TRCPPA merekomendasikan agar pemerintah segera membuat kebijakan tentang mekanisme nasional perlindungan anak. Ia juga meminta pemerintah mengnsinergikan fungsi-fungsi dari semua sektor secara masif dan berkesinambungan.

“Mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera memprioritaskan efektivitas pemberlakuan sebuah kebijakan dalam menyelesaikan masalah-masalah anak,” katanya.

KORNAS TRCPPA juga mendorong pemerintah kabupaten/kota serta provinsi dan pusat membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) perlindungan anak. “Kami juga mendorong pemerintah daerah dan DPRD di masing-masing kota untuk segera menetapkan kota layak anak dan menginisiasi lahirnya perda perlindungan anak. Selain itu, juga mendesak keluarga untuk menciptakan lingkungan rumah dan keluarga yang berbudaya anak,” kata Bunda Naumi memaparkan.

Lebih jauh, bunda naumi menyatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu membuat peraturan pelaksanaan yang mewajibkan lingkungan sekolah menjadi lingkungan antikekerasan terhadap anak.

“Aparat penegak hukum juga selalu berpihak pada kepentingan terbaik anak dalam pemeriksaan dan penanganan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Sementara, Kapolri diminta meningkatkan status unit pelayanan perempuan dan anak yang melekat di Kasat Reskrim menjadi Kasat Perlindungan Perempuan dan Anak,” katanya menambahkan.

Selain itu,KORNAS TRCPPA

mendorong peran pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat, tokoh masyarakat dan agama, serta kalangan akademisi untuk bersama-sama memerangi pornografi dan porno aksi.

DPR dan pemerintah juga didesak segera merevisi Pasal 81,82 UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mengubah hukuman yang tadinya minimal tiga tahun menjadi minimal 20 tahun dan yang tadinya hukuman maksimal 15 tahun menjadi maksimal seumur hidup ditambah dengan kebiri.
“Pengoptimalisasian proses penyidikan kasus kejahatan seksual terhadap anak secara proporsional dan profesional dengan melibatkan pihak-pihak terkait,” ujarnya..

Dan Selain menangani permasalahan anak .TRCPPA JUGA MENANGANI PERMASALAHAN PEREMPUAN.

GERAKAN SERENTAK MEMUTUS MATARAI KEJAHATAN TERHADAP PEREMPUAN..

ini penjelasan bunda kornas TRCPPA.

Masalah kekerasan terhadap perempuan bukan masalah individu saja, tetapi juga merupakan masalah nasional dan juga masalah global. Hal tersebut, sudah mencemaskan setiap negara di dunia, tidak hanya negara-negara yang sedang berkembang tetapi juga termasuk negara-negara maju yang sangat menghagai dan peduli terhadap HAM seperti Amerika Serikat. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, telah menyandang predikat buruk dalam masalah yang gagal HAM. Pelanggaran HAM yang sekarang ini dihilangkan
Pelanggaran HAM perempuan ini dapat digolongkan sebagai tindaklawan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi di mana saja (di tempat umum, di dalam angkot, di tempat kerja, dilingkungan keluarga (rumah tangga) dan lain-lain). Hal ini dapat dilakukan oleh siapa saja (seperti orang yang belum kita kenal, orang tua, saudara laki-laki atau perempuan, dan lain-lain) dan dapat terjadi kapan saja (siang dan malam). Kekerasan terhadap perempuan yang saat ini menjadi sorotan yaitu kekerasan terhadap perempuan dalam ruang keluarga atau bisa disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga.
Tindak kekerasan pada rumah tangga merupakan masalah sosial yang sangat serius, akan tetapi hal ini kurang mendapat tanggapan dari masyarakat dan para penegak hukum karena ada beberapa alasan, salah satu alasannya karena tindaklanjuti pada rumah tangga di dalam rumah tangga tentang ruang yang sangat pribadi dan Bersenang-senanglah dengan rumah tangga seseorang.
Tindak kekerasan di rumah tangga pada saat melibatkan sebagian besar korban dan keluarga di rumah tangga, sementara bentuk tindak kekerasan bisa berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Pelaku dan korban tindak kekerasan di dalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak terlibat oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan bangsa
Sebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan tidak peduli terhadap tindak kekerasan yang dikatakan atau dalam bahasa jawa istilahnya “legowo” terhadap semua tindakan yang telah menimpa dirinya. Hal ini lah yang menyebabkan kurang ter-expose nya, aksi pertahanan di rumah tangga ke publik. Kenyataan yang terjadi pada respon minimumnya terhadap masyarakat yang dilakukan suami dalam ikatan pernikahan. Istri yang memendam diri karena soal itu menahan rasa sakit baik fisik maupun nurani, tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah tanpa ada kontak fisik.
Menurut survei, kekerasan yang sering dialami perempuan dalam rumah tangga antara lain:

Kekerasan fisik, bentuk tamparan, pemukulan, dorongan kasar, penjambakan, penendangan, penginjakan, pencekikan, pelemparan benda keras, serta penyiksaan menggunakan benda tajam, seperti: silet, pisau, pahat, setrika, serta besi. Tindakan kekerasan ini menimbulkan rasa sakit, timbulnya memar, jatuh sakit dan luka berat, dimana korban sampai harus dipahami di rumah sakit dan bahkan sampai meninggal dunia.

Kekerasan psikologis, terdiri atas tindakan merendahkan citra dan harga diri seorang wanita, baik melalui kata-kata maupun tindakan (seperti: ucapan yang menyakiti, kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, serta ancaman). Tindak lanjut dapat dilakukan antara lain: tantangan, rasa percaya diri, dukungan rasa untuk tantangan, serta rasa tidak berdaya dan tantangan psikis berat pada setiap orang.

Kekerasan ekonomi, terdiri dari tindakan dalam bentuk penelantaran ekonomi di mana tidak diberikan nafkah secara rutin atau jumlah dalarn yang cukup, sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan di dalam atau di luar rumah, harus dikenai izin untuk ditukar.

Menurut penelitian, Suami lebih dominan dalam melakukan tindak lanjut. Karena, urusan istri yang dianggap tidak sesuai dengan suami, pekerjaan rumah tangga yang melelahkan, Adanya cemburu suami untuk orang lain, dan yang paling fatal untuk pergi tanpa pamit. Dalam Agama pun sudah diperingatkan, itulah haram hukumnya jika seorang istri pergi sebelum mendapat izin dari suatu dukungan. Hal ini lah yang disetujui oleh pihak istri, sehingga mereka membantah dari masalah dan semakin tidak membantah.Budaya yang telah berkembang di masyarakat, laki-laki adalah pemimpin keluarga yang sifatnya unggul sementara perempuan adalah makmum yang sifatnya lebih rendah sehingga laki-laki mendapat kekuasaan untuk menguasai dan menguasai perempuan.
Seorang istri harus menuruti semua yang disetujui oleh persetujuan, jika istri menolak atau berdebat, maka akan dipukul. Kultur ini telah mengakar di masyarakat. Dulu masyarakat beranggapan, ada masalah dalam rumah tangga adalah masalah privasi, baik orang lain atau masyarakat tidak boleh ikut campur. Namun semenjak berlakunya Undang-undang anti-kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2004, maka tindak kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya masalah internal (suami dan istri saja) disetujui sudah menjadi urusan publik. Menghindari masyarakat yang berpartisipasi dapat memecahkan masalah yang terjadi di rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-undang RI no. 23 tahun 2004 adalah setiap tindakan terhadap siapa pun perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau kesulitan fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk untuk melakukan tindakan, pemaksaan, atau pe-rampasan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perlawanan di dalam Rumah Tangga antara lain:

Laki-Laki Yang Dipertimbangkan Sebagai Pemimpin Keluarga, Dapat Mendukung dan Mengontrol Wanita.

Suami meminjamkan istiadat untuk bekerja, sehingga menggantikan istri menentang terhadap suami, dan mengompensasi suami yang kehilangan pekerjaan maka para suami memperbaiki kesulitan.

Istri yang tidak bekerja, akan menjadi ibu rumah tangga yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengasuh anak nya. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi mempermasalahkan dalam rumah tangga.

Adanya konsep wanita sebagai hak milik laki-laki menurut hukum, yang menyangkut Laki-laki punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai ayah melakukan perlawanan terhadap istri dan berjuang dengan tujuan agar mereka taat dan patuh terhadap semua hubungan dalam rumah tangga.

Terkait dengan perempuan yang menggunakan berbagai bentuk, seperti: sering tidak memerlukan hak atas warisan, perdebatan dengan bersekolah, direnggut hak untuk kerja di luar rumah, membahas kawin muda, kelemahan aturan hukum yang ada yang dilepaskan perempuan.Kekerasan terhadap perempuan muncul tidak hanya dalam rumah tangga saja, tetapi masih berupa bentuk lain dari masyarakat seperti

Masih adanya Perdagangan Perempuan (Trafficking)

Pemerkosan dan pencabulan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, tak ditutup harus dilakukan oleh orang terdekat, baik keluarga, tetangga atau orang yang baru dikenal.

Pelecehan seks bisa terjadi dimanapun baik di tempat kerja, tempat umum, kampus bahkan sekolahan. Pelecehan ini bisa oleh siapapun dan kapanpun.(rls)

(Redaksi IMM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here