Lapor Dugaan Perkosaan Terhadap Anaknya dan Pelaku Tidak ditahan,JT Minta Pendampingan TRC PPA

0
183

Indomitramedia.com

MANADO –

Mengaku anaknya telah di perkosa, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Bahu, Kec. Malalayang, Kota Manado, Prov. Sulawesi Utara, sebut saja JT (39) dengan mengajak korban LMS (15) melapor ke Polisi.

Seperti di tuturkan MT paman korban, polisi telah melakukan penangkapan terhadap terlapor berinisial AK, namun terhadap AK yang di kabarkan anaknya juga anggota polri itu tidak di lakukan penahanan. Atas dasar itulah MT paman korban mengadukan kasus tersebut ke Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan & Anak Indonesia (TRC PPA), 22/6/2020.

Kepada awak media, Jeny Claudia Lumowa yang akrab di sapa Bunda Naumi koordinator nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan & Anak (TRC PPA) menerangkan, Kejadian berawal bulan Januari 2020, malam itu korban LMS (15) menurutnya di bujuk untuk di ajak latiahan bela diri Kateda oleh AK (terlapor), karena AK memang di kenal sebagai pelatih bela diri.

“AK mengajak korban (LMS) ke gedung kosong dengan alasan akan di latih tenaga dalam, korban tidak tau ada maksud jahat di pikiran AK, hingga terjadi persetubuhan secara paksa (Perkosaan). Aksi bejad AK di lakukan lebih dari 1 kali dalam waktu yang berbeda, dan kasusnya telah di tangani oleh pihak Polres Manado berdasarkan bukti STTLP No. 934/V/2020/SULUT/RESTA MDO tertanggal 30 Mei 2020, namun terlapor (AK) tidak di tahan, sehingga paman korban MT meminta kita TRC PPA untuk mengawal kasusnya, terang Bunda.

“Mohon bantuanya Bunda karena terlapor pada tanggal 20 Juni kemarin telah di tangkap oleh tim maleo Polda Sulut dan di serahkan ke Polresta Manado, namun yang mengherankan terlapor tidak di tahan dengan alasan Covid-19” sesuai cuplikan uraian dalam pengaduan paman korban ke TRC PPA.

Di tambahkan MT, Kasus pemerkosaan terjadi sebanyak 3X selama bulan Januari hingga Februari 2020. Namun karena dibawah ancaman, korban tidak berani ngomong sama keluarga, hingga pada 30 Mei 2020 ada seseorang yang mengaku sebagai saksi, bilang kepada keluarga korban jika telah terjadi sesuatu pada korban (LMS) akhirnya mendesak dan korban mengaku bahwa telah terjadi pemerkosaan terhadapnya.

Terlapor sempat ditangkap oleh tim Maleo Polda Sulut dan diserahkan ke Polresta Manado pada tanggal 20 Mei 2020, namun ke-esokan harinya terlapor bebas kembali.

Sesuai keterangan MT paman korban, polisi menjelaskan kepada keluarga bahwa tersangka tidak wajib ditahan dengan alasan :

1. Sedang ada wabah Covid-19, demi keamanan tahanan lain, maka terlapor tidak di tahan.

2. Bahwa kasus tersebut jatuhnya ke kasus persetubuhan, bukan pemerkosaan, tegas polisi melalui saluran telephone dengan keluarga, terang MT.

Menanggapi hal itu, Kornas TRC PPA Bunda Naumi menegaskan bahwa kasus yang di alami LMS tidak pas jika oleh polisi di anggap persetubuhan sehingga menjadi dasar untuk tidak di lakukannya penahanan terhadap terlapor. Korban saat itu di bawah tekanan, di bawah ancaman pelaku, karena takut, korban tidak berani ngadu ke keluarganya, sehingga pelaku dapat mengulang perbuatan bejadnya.

Kami TRC PPA akan mengambil langkah tegas atas kasus ini, demi menegakkan supremasi hukum khususnya menyangkut perempuan dan anak, ingat…! korban adalah anak di bawah umur, dengan rayuan dan tipu dayanya, AK telah merenggut mahkota korban, jika pengakuan korban benar adanya, tidak ada alasan bagi polisi untuk tidak menahan pelaku, tegas Bunda.

“Kita akan kawal kasusnya, negara ini adalah negara hukum, hukum adalah Panglima, tidak boleh di tawar – tawar”, tegas Bunda.

(Gus)

( Redaksi IMM/Heri Purwanto.,SE)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here