Kornas TRC-PPA Bunda Naumi dan Kisah Masa lalu nya

0
60

Indomitramedia.com

Jakarta|

(29/11/2020)

Jeny Claudya Lumowa yang akrab di panggil Bunda Naumi, ketua Koordinator Nasional (Kornas) Tim Reaksi Cepat Perlundungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) adalah anak ke 7 dari 9 bersaudara.

Naumi kecil, menjalani hidupnya dengan penuh kesusahan, hidup bersama papa dan mamanya, sementara adik dan kakaknya hidup terpisah bersama familynya. Naumi kecil tak hidup normal seperti bocah – bocah pada umumnya.

Saat kecil, Naumi tak bisa menikmati masa anak – anaknya seperti anak sebayanya, Naumi kecil harus bekerja membantu orang tua sejak di usianya 7 th, saat tinggal di Sawah Lunto, Sumatera Barat, ia membantu mamanya sebagai pembantu rumah tangga.

Papanya seperti pribadi yang prustasi sejak tidak lagi bertugas sebagai TNI-AD, amarahnya tak stabil, Naumi yang selalu jadi sasaran. Jika melakukan kesalahan kecil, Naumi kecil harus terima 100 cambukan oleh papanya. Tanpa ada pembelaan dari siapapun.

“Naumi tak tau apa yang ada di pikiran orang tuanya kala itu, papanya selalu marah dan marah, hidupnya dalam kemiskinan”.

Ada warisan peninggalan kakeknya, namun tak pernah di urus, mungkin juga sudah di ambil saudara – saudara papanya. Sehingga Naumi kecilpun tak mampu melanjutkan sekolah saat itu.

Tragis.., Saat usianya 10 tahun, tiba – tiba ada 7 orang besar datang padanya, salah satu dari mereka adalah teman kakaknya. Saat itu salah satu dari mereka memegang dua kakinya sambil meneguk minuman keras.

Mereka bergiliran menyakiti Naumi, hingga tak bisa sekolah seminggu karena sakit. Dan Naumi diam, karena tak mampu bicara kepada kedua orang tuanya. Hidupnya miskin, rumahpun kontrak.

KOMNAS ANAK belum ada saat itu.

Suatu saat papanya sakit dan mulai parah..keluarga tak berdaya, papanya pamabuk berat, hingga meninggalkannya di usianya 14 tahun.

Setelah papanya meninggal, Naumi memilih pergi dari rumahnya. Sampailah di Surabaya di rumah tantenya, berharap di sekolahkan oleh tantenya saat itu, namun ternyata tidak.

Naumi remaja adalah pribadi yang sangat tegar, tak pernah putus asa, ikut ibu angkat dan rela jadi pembantu rumah tangga untuk terus bisa melanjutkan sekolah hingga SMA.

Dan suatu ketika nasib baik datang padanya, di bantu ibu angkatnya, Naumi daftar sebagai Model dan di terima. Di tahun 1999 Naumi di janjikan seseorang untuk jadi artis,
Tapi yang ada justru dijadikan SPG di batam, namun tak bertahan lama di Batam sebagai SPG yang di perlakukan hina, Naumi memilih mundur dan pindah ke Jakarta.

*Ada sebuah rahasia yang tak bisa di ceritakan kepada siapapun olehnya dengan kehidupan mama dan papanya*,

Bersama seorang artis senior Naumi mulai belajar, sesekali di ajak main film, dan di masukkan untuk belajar di Tgeayer Populer.

Pernah sebagai Custumer Officer.
Ada beberapa sinetron yang ia ikut main, namun lagi – lagi Naumi tidak betah, karena ulah – ulah sutradara, saat itu harus ngemis – ngemis peran dan tidur dengannya, Naumi memilih pergi.

“Saya memang miskin, namun diri saya bukan barang rongsok yang bisa seenaknya untuk ditukar”. Tegas Naumi kala itu.

Di tahun 2004, kala itu presidennya Megawati, Naumi bertemu seorang aktivis perempuan, Ia tertetegun padanya saat pertemuannya di hari Anak Nasional, ibu itu membuatnya terkesan. Gaya bicaranya apa adanya, tanpa kemunafikan.

Naumi remaja mengikuti ibu itu, Naumi ingin seperti apa yang beliau lakukan. Mulailah saat itu dari anak – anak jalanan jadi prioritas untuk di prrdulikannya.

Awal mengemban tugas yang di berikan tahun 2005, Naumi di berangkatkan ke Aceh pasca bencana, disana Ia membantu Tim Trauma Jealing untuk anak – anak korban bencana. Hingga berhasil mendirikan Rumah Ceria Anak Aceh sebagai tempat healing para korban.

Alhamdulilah, berkat ayah angkatnya yang sudah di Surga, Naumi remaja bisa bersekolah hingga keluar negeri.
Beliau seorang polisi yang saat itu di makamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

Itulah salah satu sebab TRC PPA ingin berbakti juga pada POLRI dan TNI.

Hingga suatu ketika Naumi mendapat amanah mendampingi Opung Arist Merdeka Sirait ketua umum KOMNAS PA membongkar misteri kematian ANGELINE bocah (8) tahun yang di aniaya dan di bunuh oleh ibu angkatnya MARGARETH warga negara asing (WNA) Australia di Kuta, Bali since – 2015.

Sejak itulah tahun 2016, bangkitlah Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRCPA) yang berkantor pusat di Jakarta di komando langsung oleh Naumi sebagai Ketua Koordinator Nasional (Kornas).

 

 

 

TRISULA  sebagai Dewan Pengawas dan Satgas TRC PPA Indonesia.

Melalui pembahasan yang panjang, di tahun 2019 di ajukan perubahan Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRC PA) menjadi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA), dan awal 2020 TRC PPA telah lolos verifikasi Kementrian Hukum dan HAM RI.

Kini telah berkibar TRC PPA hampir di 20 Provinsi di Indonesia. Harapannya dengan Gerakan Preventif, Edukatif dan Perlindungan, TRC PPA makin Solid dan bisa di terima masyarakat luas.

Kami tak suka bertele – tele,
Kami bukan LSM, bukan pula Ormas,
Kami Yayasan Mandiri yang berjalan dengan anggaran para donatur dan iuran keluarga besar TRC PPA.
Kami tidak di biayai negara, tapi kami ingin berbakti kepada negara.
Semua dilakukannya demi papa dan ayah angkatnya yang telah di surga(rls)

Redaksi IMM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here